Kamis, 26 Januari 2023
YANG TERABAIKAN NAMUN TETAP BERSINAR
Rabu, 25 Januari 2023
Semangatku Tetap Membara Meski Fisikku Sedang Melemah
Senin, 23 Januari 2023
TRIK MENCEGAH VIRUS WRITER'S BLOCK
TRIK MENCEGAH VIRUS WRITER'S BLOCK
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Selamat berjumpa kembali pejuang literasi milenial, sambil menikmati kopi panas dan cmilan malam menggoda lidah yang telah menemani saya mengikuti pelatihan menulis hari ke 7 dengan narasumber ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr. pada hari Senin tanggal 23 Januari 2023 pada pukul 19.00-21.30 wib melalui WAG, dengan moderator ibu Raliyanti, S.Sos., M.Pd.
Narasumber kali ini adalah seorang ibu muda yang cantik, baik hati dan tidak sombong serta memiliki segudang prestasi yang luar biasa dan sangat menginspirasi. Beliau adalah Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. salah satu guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Untuk mengenal bu Ditta lebih detail silahkan kunjungi profil beliau di sini https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html?m=1 atau bisa juga mengunjungi kompasiana bu Ditta https://www.kompasiana.com/ditta13718
Pernahkah kita merasa tidak ada mood menulis? Hilang ide, terhenti ditengah jalan? Waah jangan-jangan terkena virus WB tuuh.. Apaan itu yaa.. Apakah menular? Bagaimana menanganinya? demikian pertanyaan pematik yang disampaikan moderator bunda Rali sebelum materi disampaikan.
Tema malam ini adalah "Mengatasi Writer's Block", masih banyak yang belum paham dengan istilah Writer's Block (WB) terutama bagi penulis pemula seperti saya. Sebelum menjelaskan apa itu yang dimaksud dengan Writer's Block, narasumber kali ini menceritakan perjalanan menulisnya yang sudah dia geluti sejak Sekolah Dasar. Sebelum sekolah di SD bu Ditta sudah menyukai dengan bacaan cerita anak-anak, kemudian saat beliau masuk Sekolah Dasar sudah memulai suka dengan menulis, saat itu suka menulis buku diary. Ketika di SMP, sering mengirim tulisan ke mading sekolah dan pernah menulis cerita di buku tulis yang dibaca bergiliran oleh teman-teman. Kemudian atas arahan guru Bahasa Inggris, bu Ditta disarankan menulis diary dalam bahasa Inggris. Kegiatan menulis diary ini berlanjut sampai bangku SMA, bahkan beberapa teman dekat yang membaca diary bu Ditta sempat berkomentar bahwa tulisannya sudah seperti novel.
Ternyata kegiatan menulis bisa menjadi self healing yang baik, bahkan saat ini beberapa psikolog ada yang menyarankan kepada para pasiennya untuk menulis sebagai salah satu cara mengatasi depresi dan sebagainya. Berkat hobinya menulis sejak kecil inilah akhirnya berbuah manis, saat kuliah bu Ditta pernah membuat Buku Petualangan Kimia bersama rekannya dan diikutsertakan dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa di Jurusan, dan Alhamdulillah meraih posisi kedua. Masih bersama teman-teman kuliahnya berhasil membuat proposal dana hibbah untuk Asosiasi Profesi dari Dikti dan bisa cair sebesar 40 juta pada tahun 2009-2012, sungguh nominal yang sangat besar untuk saat itu.
Kegiatan menulis bu Ditta di awal mulai bekerja sempat vakum karena kesibukkan Mengajar di boarding school dengan aktivitas yang padat. Hingga akhirnya di awal masa pandemi, beliau mengikuti kelas menulis bersama PGRI dan masuk di angkatan ke-7. Berawal dari arahan untuk membuat resume, membuatnya kembali aktif menulis di blog. Bahkan berkesempatan menulis bersama Prof. Eko. dan Alhamdulillah menjadi 1 di antara 9 orang (angkatan pertama tantangan Prof. Eko) yang bukunya terbit di penerbit mayor. Luar biasa semangatnya narasumber kali ini. Dari kebiasaan menulis ini juga akhirnya bu Ditta bisa menyelesaikan soal esai diseleksi Calon Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 dan lulus. Alhamdulillah saat ini sedang bertugas lagi di Angkatan 6.
Disadari atau tidak ternyata menulis memiliki banyak manfaat. Ada yang menulis karena hobi, kebutuhan, tuntutan profesi, dan lain sebagainya. Apa pun alasannya, aktivitas menulis memang tak bisa lepas dari kita sebagai makhluk yang berbahasa dan berbudaya.
Menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yg tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer penulis naskah film/sinetron, ada ghost writer, techincal writer, hingga UX writer, dll. Faktanya, penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias Writer's Block. Tidak peduli tua atau muda, profesional atau belum, WB bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. WB ini bisa menjangkit dalam hitungan detik, menit, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan, tergantung seberapa cepat kita menyadari dan mengatasinya. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali WB dan cara mengatasinya.
- Mencoba metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk WB. Misal ketika jadi penyebab: Ada orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang WB.
- Stres, dalam Kamus Psikologi diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin, tegangan dan konflik.
- Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stress. Pada akhirnya, jangankan menulis, kita bisa merasa jenuh dan suntuk. Terserang WB deh. Dengan mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi alternatif solusi, seperti melakukan hal-hal yang disukai untuk refreshing. Membaca buku-buku ringan untuk cemilan otak juga bisa jadi solusi mengatasi WB. Biar bagaimanapun, WB bisa terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata. Karena dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata. Pada akhirnya, jika diteruskan insya Allah bisa sekaligus mengatasi WB.
- Terlalu Perfeksionis, seperti yang dikisahkan bu Ditta pengalaman menulisnya sewaktu di SMP, jika saya membuka kembali diary berbahasa Inggris yang saya tulis saat duduk di kelas 2 SMP, saya akan tersenyum bahkan tertawa sendiri. Grammarnya saja banyak yang tidak sesuai, tapi saya tetap PD menulis 😄 tak hanya satu, ada dua atau tiga diary. Tapi, justru itulah salah satu kunci menghadapi WB. Bila saat itu saya terlalu perfeksionis, terlalu memikirkan apakah tulisan saya sudah sesuai kaidah atau belum, niscaya diary berbahasa Inggris itu tidak akan pernah rampung, demikian disampaikan oleh bu Ditta. Kondisi menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb ternyata dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah free writing atau menulis bebas, ternyata bisa mengatasi virus WB.
P1
Assalamulaikum bu dita salam kenal saya Nurhasnah dari UPT SMP N 2 Tigataksa ibu aktivitas PP angk 3 dan 6 artinya ibu jadi pp 2 kali.benarkah? Bukannya hanya satu kali dibolehkan. keren banget bu. Apa tips ibu menulis dalam Bahasa Inggris.sementra jurusan ibu IPA? Thanks
Wa 'alaikum salam Bu Nurhasanah 🥰🙏🏻
Betul, saya dan teman-teman di Subang ditugaskan dua kali. Hal ini sesuai surat edaran dari Kemdikbud yang intinya bila pernah menyelenggarakan PGP, maka PP diambil dari angkatan sebelumnya, jika kurang akan ditambah dg PP baru dg seleksi reguler.
Terkait bahasa Inggris, saat SMP saya dan 3 sahabat lain ikut les privat Bun tapi gurunya berbeda dg guru B. Inggris yang meminta saya menulis diary berbahasa Inggris. Saya selalu ingat yg disampaikan oleh guru saya, bahwa belajar bahasa Inggris itu, tak bisa hanya bicara. Perlu dilatih pula kemampuan mendengar dan menulis dalam bahasa Inggris. Yah, sebagaimana Tes TOEFL dan semacamnya. Kan tidak hanya kemampuan reading saja yang dites. Hehe
Tips nya sederhana, just do it. Orang Inggris asli pun tidak selalu terpaku pada grammar kok.
Nah kita menulis di chat pun kan tidak melulu menggunakan SPOK toh? 😁
Yang penting, kita ngomong/nulis mereka paham, dan mereka ngomong/nulis dan kita paham. That's it. Ini kata master bahasa Inggris saya. Hehe
So, PD saja Bun 😉
Kalau masih khawatir kan skg hidup sudah semakin mudah, bisa dibantu dicek oleh teman atau oleh Mbah Google.
P2
Mugiarni dari Kabupaten Tangerang. Salam kenal bu.
Almarhum suami saya juga dari Subang. ( Kalijati)👏👏
Pertanyaan
1. Bagaimana cara memulai untuk memperkenalkan budaya digital pada anak SD.
2. Mengingat sekolah tempat saya mengajar bukan kategori lingkungan yang baik. Orang tua murid cenderung mengatur guru, sementara dengan kondisi mereka yang berpengetahuan level bawah?Terimakasih
Salam kenal juga Bunda.
Wah, Kalijati dekat dari rumah. Sekitar 20 menitan saja ☺️
Untuk menjawab pertanyaan pertama, artikel yang pernah saya buat mungkin bisa sedikit menambah wawasan kita terkait Budaya Digital.
Tulisan tersebut saya buat setelah mengikuti mengikuti Literasi Digital Sektor Pemerintahan Daerah Jawa Barat Tahun 2022 (BPSDM) Batch 5 Bertema Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Pemberdayaan Kapasitas Teknologi Digital Kementerian Kominfo.
Untuk yang nomor dua, saya jadi teringat dengan pengalaman salah satu Guru Penggerak di Angkatan 3. Beliau juga kurang lebih mengalami hal yang sama.
P3
Assalamu'alaikum
Indah - Banjarnegara
Bagaimana cara mengatasi WB saat kita mengikuti 3 pelatihan sekaligus,, seperti yang saya alami saat ini, saya mengikuti pelatihan KBMN 28, tapi juga minat dengan tantangan Prof. Ekoji, dan juga program dari pak Dail...semuanya hanya membutuhkan waktu singkat, kadang kalo digunakan untuk membaca-baca seperti ada waktu yang hilang, mohon pencerahannya agar semuanya dapat terselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan
Wa 'alaikum salam Bu Indah 🥰
Setengah dari pertanyaan adalah jawaban. Saya yakin sebetulnya Bu Indah sudah tau jawaban cara mengatasi WB yang berkaitan dengan waktu. 😊
Kalau saya di posisi Ibu, saya akan membuat skala prioritas dan jadwal menulis. Insya Allah ketiga-tiganya akan bisa dijalani dengan baik asal kita istiqomah dengan jadwal yang telah kita tetapkan. Cari dan kenali waktu emas Bu Indah dalam menulis (karena tiap orang bisa berbeda). Apakah Bu Indah senang menulis di kala subuh? Sebelum tidur? Saat jeda istirahat? Menulislah di waktu terbaik tersebut 😊
Semoga membantu 🙏🏻
P4
Assalamualaikum....
Saya Wahyuning dari Jakarta Pusat. Kalimat akhir yang menusuk di dada, tulisan buruh lebih baik dari pada tulisan yang tidak selesai. Nyesek dadaku Ibu guru hehe.....tapi boleh donk berikan tips dan trik dari Bu Dita yang cantik ini untuk saya agar bisa menyelesaikan satu persatu karya yang masih menjadi draft di laptop? terima kasih
Eheheh
Tenang tenang, saya juga pernah kok membuat tulisan tulisan buruk. Tapi toh itu tetap berkesan ketika dibaca ulang 😁
Tips dari saya, coba buka kembali kemudian kelompokkan. Siapa tau bisa jadi buku 👍🏻
Buku solo pertama saya berjudul Lelaki di Ladang Tebu juga asalnya kumpulan draft cerpen di laptop.
*Kuatkan tekad*, olah kembali. Kalau bisa sambil membuat daftar isi. Mulai dari akhir (bayangkan bukunya sudah jadi, bukan sekedar draft lagi). Dan tentu saja: mulai menulis.
P5
Assalamu'alaikum Wr Wb ..
R. Agung PS_ Jakarta_
Saya sudah merasakan writer's block ketika tulisan saya sedikit yang membaca. Muncul di sana keengganan untuk menulis lagi. Apakah yang harus saya lakukan. Menulis dengan topik aktual tetapi kurang dikuasai, atau terus menulis tanpa menghiraukan jumlah pembaca?
Wa 'alaikum salam
Pa Agung, saya juga pernah merasa di posisi Pa Agung. Sedih memang ketika sudah menulis dengan kesungguhan hati namun masih sedikit yang membaca. Tapi, kalau boleh saya tanyakan ... apa sebetulnya niat Pa Agung dalam menulis? Seingat saya Prof Eko juga menyarankan agar kita menulis sesuai dengan minat kita atau yang kita kuasai. Namun, jika niat P Agung memang menulis agar bisa dibaca banyak orang, banyak cara yang bisa ditempuh.
Semangat, Pak 👍🏻
P6
Assalamu'alaikum
Nama saya Rahman Sumenep, Mau tanya bu, bagaimana cara kita untuk menghilangkan rasa keragu-raguan saat menulis, karena ide mandek di tengah jalan. Terima kasih🙏🏻
Wa 'alaikum P Rahman.
Yuk, menulis dengan teknik free writing alias menulis bebas. Saat mandek, coba tulis saja: "Sekarang ini saya sedang buntu menulis. Entah mengapa tiba-tiba mandek. Seperti sedang berlari sprint lantas menabrak tembok .... dst." Atau bisa juga: "Jujur, saat ini aku ragu. Ragu jika tulisanku ini seindah pelangi. Seharum mawar. Atau sebaik intan yang akan dipandang banyak orang. Banyak ketakutan yang muncul dalam benakku ... dst"
P7
Assalamualaikum, saya Maria Ulfa dari Lombok, pertanyaan saya:
1. Apa kita jg bisa meraih mimpi seperti Ibu Ditta yang hebat, walau kami tidak se-getol Bu Ditta?
2. Apa yang paling penting dipersiapkan utk menjadi seorang penulis. Terima kasih
Wa 'alaikum salam Bu Maria 😊
1. Pasti bisa dooong 😎 *yakin*.
2. Mental seorang penulis.
Jika berkenan, silakan simak video yang saya buat tentang mental seorang penulis ya Bun :
P8
Saya Umatun nur islamiuato peserta KBMN 28 dari Kemenag kab Magelang jateng.saya penulis awam dan masih awal.semangat menulis karena kagum kpd Bunda Lilis sutikno.
Pertanyaan: Bagaimana trik trik biar bisa menulis yang bermutu. Saya mulai menulis sudah setua ini umur saya yaitu 50 tahun lebih.tapi saya semangat
Wah, terima kasih 😊🙏🏻
Kisah Bunda Lilis dan Bunda Kanjeng cocok jadi inspirasi nih untuk kasus Bunda. Untuk tipsnya practice makes perfect dan perbanyak membaca terkait dengan apa yang akan kita tulis. Misal jika Bunda senang menulis puisi, maka mari membaca karya karya sastrawan terkemuka. Bila senang cerpen, mari perbanyak baca cerpen yang berhasil dimuat di media massa atau karya cerpenis populer.
Membacanya harus seperti kacang goreng. Dinikmati, diresapi kata-katanya, kenali diksi yang digunakan, dsb. Bukankah makan kacang goreng lebih nikmat bila perlahan, bukan sekaligus 😁. Lain halnya jika ingin menulis karya ilmiah, ya mesti mau membaca jurnal. Hehe. Saya pernah baca tulisan Prof. Ngainun, jika ingin menulis jurnal, setidaknya kita harus membaca beberapa volume dari jurnal yang kita targetkan. Pokoknya tetap semangat ya Bun. Usia bukan halangan bagi seseorang untuk bisa menjadi penulis andal 🥰
P9
Saya pak Wigung dari gunung kidul Yogyakarta
Apakah wb termasuk penyakit ,Bu?
Ehehe itu istilah saya saja 😁 karena berdasarkan pengalaman bisa datang berulang kali. Misal yg saya alami, saya pernah terkena WB karena lelah fisik. Di waktu lain, saya terkena WB karena terlalu perfeksionis.Saya katakan "penyakit" karena memang jika dibiarkan, dampaknya bisa fatal. Tak produktif lagi.
Lanjut P10 Nggih bunda Dita
Pak Etik Nurinto, S.Pd.SD.
Dari : Pemalang
Pertanyaan :
Apa yang menurut Bu Ditta paling sulit saat menulis dan bagaimana mengatasinya ?🙏🏻
Wahhh, P Etik ini teman saya
Hmm, pertanyaan sulit.
Cara mengatasinya ...
Dengan mengingat niat awal kita menulis. Mengingat kembali masa masa dimana kita menikmati proses menulis itu sendiri. Dan tak lupa berdoa Seperti malam ini, sebelum menulis di grup ini, saya juga meminta doa pada kedua orang tua saya 😊
Jika ingin mempelajari tentang cara mengatasi virus WB lebih dalam bisa membeli bukunya, silahkan hubungi bu Raliyanti dengan CP: 081586462152
Minggu, 22 Januari 2023
MENULIS BUKU MAYOR DALAM DUA MINGGU
MENULIS BUKU MAYOR DALAM DUA MINGGU
Assalamu'alaikum wr.wb.
Pembaca yang tercinta, yang selalu haus akan pengetahuan, pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan pelatihan menulis buku pada hari ke 6 bersama narasumber Prof. Richardus Eko Indrajit yang dikenal sebagai Prof. Ekojit. Beliau adalah seorang penulis besar yang dapat mengantarkan mimpi kita menuju penerbit mayor, dimana buku kita juga akan diterbitkan dalam bentuk ebooks atau buku digital. Apabila ingin mengenal lebih detai narasumber bisa mampir ke sini: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Richardus_Eko_Indrajit.
Tepat pada pukul 19.00 wib Prof. Ekojit menyambut para peserta menulis buku KBMN PGRI 28 melalui WAG, beliau memberi semangat dan memotivasi para peserta dengan memberitahu teman-teman penulis hebat dan mandiri, sebagai contoh diantaranya adalah bunda Aam.
Pada kesempatan ini Prof Ekojit berbagi pengalaman menulis, dari pengalaman menjadi penulis buku mayor, yaitu karya tulis yang diterbitkan oleh penerbit nasional. Sejak kecil Prof. Ekojit sudah menyukai dengan kegiatan menulis, tentu saja sudah selayaknya jika beliau menjadi sehebat sekarang ini, yang diraihnya berkat usaha gigihnya sejak kecil hingga sekarang. Hingga saat ini, Prof. Ekojit telah menulis kurang lebh 121 buku mayor semenjak selesai kuliah. Beliau juga sudah menulis kurang lebih 623 artikel, dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, sungguh prestasi yang sangat luar biasa.
Berawal dari hobinya yang senang menulis semenjak Sekolah Dasar, meski tulisan pertamanya baru diterbitkan majalah ketika duduk di bangku SMP, namun tidak pernah mematah semangatnya untuk terus berkarya. Hal ini dilakukan karena alasan beliau senang menulis adalah karena ingin membagi ide, pemikiran, gagasan, dan cerita kepada orang lain, ternyata lama kelamaan jadi ketagihan menulis. Prof. Ekojit merasa bahwa semakin banyak membaca buku dan menonton televisi karena dulu belum ada internet, membuatnya semakin tinggi keinginan untuk menulis. Sungguh suatu semangat yang perlu kita kobarkan untuk diri kita sendiri dan anak didik kita.
Buku Mayor pertama milik Prof. Ekojit terbit di tahun 2000, yaitu dua tahun setelah krisis dan reformasi. Kemudian terbitlah sepuluh buku pertamanya yang berisi bunga rampai. Setiap buku terdiri dari 50 artikel, dan setiap artikel berisi ringkasan SATU TOPIK yang sedang menjadi trend pada saat itu. Sampai tidak terduga ketika begitu banyak orang yeng membelinya, hingga akhirnya jadi ketagihan menulis.
Hal lain yang membuat motivasi menulis lebih besar adalah karena banyaknya SMS (karena dulu belum ada WA) yang masuk ke nomor hp beliau dan mengucapkan terima kasih atas buku yang telah dibuatnya. Tentu saja hal tersebut membesarkan hati Prof. Ekojit dan merasa hidupnya berguna untuk orang lain. Begitulah pentingnya menulis nomor handphone di setiap buku yang ditulis.
Saat pandemi ditetapkan di Indonesia tepatnya tanggal 16 Maret 2020, dimana semua guru dan siswa harus belajar dari rumah, maka Prof. Ekojit memutuskan untuk menjadi youtuber. Setiap hari membuat satu youtube, yang isinya hal-hal berkaitan dengan PJJ karena saat itu sedang menjadi pembicaraan nasional. Beliau mempunyai ide dengan membuat youtube dengan judul yang aneh-aneh, seperti gamification, flipped classroom, collaborative learning, metaverse, IOT, big data, dan lain sebagainya.
Dari segudang pengalaman yang telah dimiliki prof. Ekojit, beiau ingin mengajak guru-guru yang tertarik untuk menjadi penulis buku mayor yang diterbitkan untuk mendaftarkan diri dan bergabung dengan WAG Januari Berseri yang dibuat oleh prof. Ekojit, dimana pelatihan akan dimulai satu hari setelah ulang tahun beliau yaitu tanggal 25 Januari. Dalam waktu singkat sudah lebih dari 50 orang bergabung untuk bisa memiliki buku sendiri, saya pun tidak mau ketinggalan, meski kemampuan menulis saya masih sangat pemula sekali, karena saya baru ikut bergabung latihan menulis di KBMN PGRI angkatan ke 28 ini.
Kali ini Prof. Ekojit memberikan pelatihan yang berbeda dengan sebelumnya, dimana tema sudah ditentukan beliau, dengan harapan peluang masuk ke penerbit lebih besar dibandingkan peserta yang menentukan temanya sendiri. Ada 50 tema yang disediakan oleh prof. Ekojit, dan bagi saya banyak tema yang saya sendiri kurang paham, sehingga untuk kali ini memang sedikit rebutan untuk memilih temanya masing-masing, dan saya memilih tema "Students Centered Learning".
Target penulisan buku ini adalah sebelum Idul Fitri sudah bisa dikurasi oleh Prof. Ekojit dibantu bunda Aam dan sudah masuk ke penerbit. Menurut Prof. Ekojit yang penting ada keseriusan dalam menulis buku. Pesan Prof. Ekojit kepada calon penulis buku adalah "Kalau ingin menuliskan buku yang diterbitkaan mayor, anda harus mengikuti KEBUTUHAN PASAR, kita menulis bukan untuk diri sendiri tetapi kita menulis untuk orang lain". Beberapa contoh judul-judul yang banyak dibutuhkan sekolah-sekolah jaman sekarang:
- Classroom Design and Management
- Computer-Based Assessment
- Community Based Learning
- Competency-Based Learning
- Computer-Adaptive Assessment
- The 21st Century Learning Skills
Dalam menulis mulailah dari satu hal yang sedehana dahulu, janganlah menuliskan sesuatu yang kita tidak mengerti dan tidak ada sumber referensinya.
Demikian materi singkat dan berisi dari Prof. Ekojit, beliau tidak banyak menyampaikan materi secara teoritis, tetapi lebih ke praktik langsung, dan langsung dibuat grup bagi penulis yang menginginkan memiliki buku major, materi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dari peserta.
Prof. saya tertarik menulis buku membangun SDM, Siswa tingkat SMP SMA. Bagaimana tanggapannya tentang ini prof? Dari Pak Surya
1 | Makannya dulu kalau bu Aam masih ingat, saya lebih senang mengajak rekan-rekan guru untuk BERJALAN BERSAMA, bukan sekedar BERDISKUSI. Kebanyakan orang senangnya berdiskusi dan TAKUT EKSEKUSI. Kalau saya terbalik, langsung EKSEKUSI di bawah bimbingan saya, baru kita berdiskusi nanti kalau ada hambatan.
2 | Carilah judul yang ANTI MAINSTREAM. Kalau yang BIASA-BIASA SAJA, biasanya penerbit mayor tidak tertarik menerbitkannya.
Pertanyaan 1: Dalam menulis tentunya kita membutuhkan referensi, nah untuk membuat satu buku. Idealnya berapa buku referensi yang kita gunakan? (Afif)
3 | Tidak ada aturan mengenai hal ini. Referensi adalah bentuk penghormatan kita terhadap karya orang lain yang butir-butir kontennya kita pakai dalam buku kita.
4 | Semakin banyak kita pakai pemikiran orang lain, semakin banyak referensi yang kita pergunakan.
Ida Farida mohon Ijin tanya bagaimana tulisan kita berkualitas dan dipercaya penerbit mayor? (Ida)
5 | Isi atau konten menarik yang disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
6 | Ini cara mencari judul dan tema yang menarik bagi penerbit mayor https://www.youtube.com/watch?v=17v72RUhZIY
Assalamu'alaikum. Saya Rahman dari Sumenep madura. Mau tanya, bagaimana cara agar tulisan kita masuk dalam kategori mayor, dan bagaimana memunculkan inspirasi atau ide sehingga dapat menghasilkan karya yang bagus dan inspiratif🙏🏻🙏🏻
7 | Nah ini akan saya ajarkan sambil pak Rahman menulis. Daftar ke bu Aam ya, nanti BAGAIMANA nya akan kita lalui bersama.
Teman-teman tercinta, materi Prof. Eko lebih ke praktik langsung ya. Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dan mendaftar menjadi peserta
8 | Sudah banyak teori, konsep, dan pengalaman dari penulis lain yang disampaikan ke anda semua. Sehingga saya tidak ingin membebani dengan teori-teori baru. Jadi saya mengajak teman-teman yang BERMIMPI karyanya terpajang di toko buku untuk BERGABUNG dalam batch JANUARI BERSERI yang nanti akan menjadi workshop mingguan membuat buku mayor.
9 | Tujuan workshop menulis adalah agar guru-guru BISA MENULIS BUKU bukan sekedar TAHU CARANYA NULIS BUKU.
10 | Saya adalah penganut konsep BELAJAR KETIKA BERKARYA, bukan BELAJAR DULU BARU BERKARYA
Ndak usah MIKIRIN JUDUL, nanti SAYA YANG AKAN PILIHKAN.
Kalau sudah ditutup, dibuat WA JANUARI BERSERI, dan saya akan mulai workshopnya
Demikian ilmu yang sangat bermanfaat bagi para penulis buku yang masih pemula seperti saya, semoga apa yang disampaikan Prof. Ekojit dapat kita terapkan agar budaya literasi kita semakin berbobot. Nenek moyang mengatakan: "ala bisa karena biasa. tak kenal maka tak sayang." Cukup sekian dan terima kasih
Wassalamu'alaikum wr.wb.
BIRRUL WALIDAIN
-
GALI POTENSI UKIR PRESTASI Narasumber kita kali ini adalah Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd ., beliau adalah penulis handal berhasil men...
-
Chat GPT adalah sebuah singkatan yang merujuk pada " Chat Generative Pre-trained Transformer ", sebuah sistem yang dike...



















